Kamis, 07 Juni 2012


Terlalu Banyak Jika Ku Ceritakan semua

Naluriku terpilih menjadi ketua IPM MAMUSA cukup kuat kala itu. Sehingga sesegera mungkin aku mengatur strategi agar diriku tidak dicalonkan menjadi ketua. Aku bilang kepada beberapa orang yang terlihat ada sinyal-sinyal mendukungku, bahwa aku akan dicalonkan juga sebagai ketua IPM Watukebo Tengah karena berbagai alasan. Tapi dari sebagian mereka tidak memedulikan apa yang kusampaikan. Bahkan Edi Hartono, Sang ketua seniorku mengejekku “ Kalaupun kamu dicalonkan kan belum tentu jadi tho..? ini kan hanya calon. Hehehe.. “. Aku sedikit malu karena terlalu PeDe aku akan terpilih menjadi ketua.
Periode Edi Hartono pun sudah di ujung laporan, hingga aku tak dapat mengelak dengan menerima sebagai calon tetap ketua. Kala itu dilakukan pemilihan langsung dengan 4 calon : Aku, Sandi, Arifin dan Benny. Pemilihanpun berlangsung cukup seru. Males rasanya aku melihat penghitungan suara. Hingga kuputuskan untuk tidak mengikutinya dan keluar dari ruang penghitungan. Penghitungan suarapun selesai dan aku adalah orang yang pertama  tidak  setuju atas terpilihnya aku jadi seorang ketua IPM di MAMUSA. Bagaimana tidak, aku berfikir sungguh ribetnya jika aku harus ngurusi  organisasi yang sejatinya aku tidak suka. Tapi mau dikata apa, pemilihan secara langsung dan tidak dapat ditangguhkan hasilnya. Dengan terpaksa aku menerima pilihan teman-temanku itu.
Aku menjalani nasibku itu dengan setengah hati di awal periode. Tetapi seiring dengan berjalanya waktu, karena diawali dari kecintaanku pada sekolahan yang pada saat itu memang membutuhkan kiprah dan langkah IPM, akhirnya aku dan kawan – kawan seperjuangan menguatkan tekad untuk melakukan sesuatu hal yang dapat mengharumkan nama sekolah dimata sekolah lain dan masyarakat. Hal yang cukup mengesankan adalah ketika kami para dedengkot IPM MAMUSA merenung, kenapa MAMUSA tidak diminati oleh masyarakat??. Dan akhirnya kami menyimpulkan beberapa hal. Yang pertama adalah karena MAMUSA belum dikenal oleh masyarakat. MAMUSA belum terkenal gara-gara tidak punya nameboard yang jelas dari jalan (ini kesimpulan pertama ). Dari kesimpulan itu akhirnya para dedengkot IPM MAMUSA mengajukan ide kepada sekolah agar membuat nameboard yang Nampak jelas dari jalan raya. Pihak sekolah setuju-setuju saja. Tapi kucuran dananya pas-pasan untuk membuat nameboard yang mentereng. Kami tidak berkeluh kesah karena memang begitulah kondisi keuangan sekolah. Akhirnya dengan keuangan yang pas, ( pas untuk beli lem, pas untuk beli cat, pas untuk beli stereofoam, pas untuk belie es di bulek nur…) kami berhasil membuat papan nama yang terlihat jelas dari jalan raya. Tapi terlihat agak lucu, papan nama itu tertempel di dinding luar AULA lama ( kelas 2 IPA/ IPS kala itu ) yang terbatasi oleh cat berwarna kuning dan tulisan yang tertempel hanyalah stereofoam yang hanya tahan beberapa bulan. Minggu pertama kami lihat masih mentereng dan tulisanya lengkap. Bulan pertama tulisan yang di cat warna biru sudah mulai usang karena kena sinar matahari. Bulan kedua tulisan sudah mulai keropos dan berlubang – lubang. Bulan – bulan berikutnya aku sudah tidak begitu mengamatinya lagi hingga akhirnya ruangan itu dihancurkan dan dibangun kelas baru.
Lepas dari nameboard,  dedengkot IPM MAMUSA pernah menerima ide untuk menjadi panitia pelaksana jalan sehat dalam rangka milad MAMUSA yang ke-25. Masih sangat teringat ketika kami belum mampu untuk mencari sponsor, sehingga kelabakan dalam pendanaan. Dari permasalah itulah Pak Qomari ( Kepala MAMUSA saat itu ) memberi ide. “ bagaimana kalau hadiahnya berupa trophy aja, untuk menghemat biaya ? “. Seketika tahu seperti itu kami merasa putus asa dan ingin menggagalkan acara itu, Karena kupikir tidak akan menarik sama sekali jika hadiah yang disajikan dalam jalan sehat cuman sebatas trophy, “ itu kan hadiah lomba 17-an, masak buat hadiah jalan sehat “ itu yang ada dalam pikiranku. Tapi disisi lain banyak pihak yang menginginkan acara itu tatap berjalan walau keterbatasan dana. Akhirnya negosiasipun dilakukan. Kami melakukan rapat dengan beberapa dewan guru. Beberapa itu adalah Pak Qomari, Pak Bejo Sukateman, Pak Basuki Rahmat, dan Pak Nuryadi (Alm). Akhirnya kesepakatan kami lakukan. Pak Nuryadi (Alm) siap membantu kami mencarikan sponsor untuk hadiah yang menarik. Dan kamipun gak kalah, mau mencoba untuk menggali informasi tentang per-sponsoran itu. Al Hasil kami dapat sponsor dari “Sakatonik Jreng”. Seketika itu pikiran kami juga langsung “jreng”. Kami siap bekerja keras menyiapkan jalan sehat itu. Mulai dari publikasi dan distribusi karcis sampai dengan urusan konsumsi.  Bingung mendera kami, H – 7 hari masih dapat peserta sekitar 400 orang, padahal target peserta adalah sekitar 1500 orang untuk memenuhi target dari sponsor. Berbagai cara kami lakukan agar semua tiket terjual. Mulai membuka stand penjualan tiket di secretariat yang nekat buka sampai jam 11 malam, hingga mendatangi petinggi ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah di ranting-ranting.
            Masalah tak cukup itu. Banyak kontroversi pro-kontra di kegiatan itu. Diantaranya berkembangnya pemikiran bahwa jalan sehat dengan mengundi karcis itu adalah salah satu kegiatan “mengundi nasib”, dan itu dilarang oleh Islam. Luar biasa tantangan yang kami alami, tapi urusan itu kami menyerahkan kepada pihak sekolah agar melakukan klarifikasi atas pendapat itu.
Cukup lega rasanya ketika penjualan tiket sudah sampai angka 1000, tapi kurang 500 tiket yang harus terjual. Tak putus asa kami mengobral karcis itu. Dan akhirnya cukup sudah perjuangan kami menjual tiket karena sudah menembus angka minimal pada malam hari sebelum pelaksaan.
Aku menghabiskan periodeku dengan berbagai aktifitas yang belum pernah dilakukan sebelumnya…….
Sepenggal pengalamanku ini semoga dapat menjadi semangat yang besar buat adik – adik yang sekarang menjadi Pimpinan IPM di MAMUSA agar selalu mengadakan inovasi dan kreasi walau dalam keterbatasan.



By K@ng M@x
Kamis, 7 Juni 2012

1 komentar:

  1. Tertarik dengan sponsor Sakatonik 'Jreng' yang bikin mood langsung 'Jreng!'
    Haha :D

    BalasHapus