Terlalu Banyak Jika Ku Ceritakan semua
Naluriku terpilih menjadi ketua IPM
MAMUSA cukup kuat kala itu. Sehingga sesegera mungkin aku mengatur strategi
agar diriku tidak dicalonkan menjadi ketua. Aku bilang kepada beberapa orang
yang terlihat ada sinyal-sinyal mendukungku, bahwa aku akan dicalonkan juga
sebagai ketua IPM Watukebo Tengah karena berbagai alasan. Tapi dari sebagian
mereka tidak memedulikan apa yang kusampaikan. Bahkan Edi Hartono, Sang ketua
seniorku mengejekku “ Kalaupun kamu dicalonkan kan belum tentu jadi tho..? ini
kan hanya calon. Hehehe.. “. Aku sedikit malu karena terlalu PeDe aku akan
terpilih menjadi ketua.
Periode Edi Hartono pun sudah di
ujung laporan, hingga aku tak dapat mengelak dengan menerima sebagai calon
tetap ketua. Kala itu dilakukan pemilihan langsung dengan 4 calon : Aku, Sandi,
Arifin dan Benny. Pemilihanpun berlangsung cukup seru. Males rasanya aku
melihat penghitungan suara. Hingga kuputuskan untuk tidak mengikutinya dan
keluar dari ruang penghitungan. Penghitungan suarapun selesai dan aku adalah
orang yang pertama tidak setuju atas terpilihnya aku jadi seorang
ketua IPM di MAMUSA. Bagaimana tidak, aku berfikir sungguh ribetnya jika aku
harus ngurusi organisasi yang sejatinya
aku tidak suka. Tapi mau dikata apa, pemilihan secara langsung dan tidak dapat
ditangguhkan hasilnya. Dengan terpaksa aku menerima pilihan teman-temanku itu.
Aku menjalani nasibku itu dengan
setengah hati di awal periode. Tetapi seiring dengan berjalanya waktu, karena
diawali dari kecintaanku pada sekolahan yang pada saat itu memang membutuhkan
kiprah dan langkah IPM, akhirnya aku dan kawan – kawan seperjuangan menguatkan
tekad untuk melakukan sesuatu hal yang dapat mengharumkan nama sekolah dimata
sekolah lain dan masyarakat. Hal yang cukup mengesankan adalah ketika kami para
dedengkot IPM MAMUSA merenung, kenapa MAMUSA tidak diminati oleh masyarakat??.
Dan akhirnya kami menyimpulkan beberapa hal. Yang pertama adalah karena MAMUSA
belum dikenal oleh masyarakat. MAMUSA belum terkenal gara-gara tidak punya nameboard yang jelas dari jalan (ini
kesimpulan pertama ). Dari kesimpulan itu akhirnya para dedengkot IPM MAMUSA
mengajukan ide kepada sekolah agar membuat nameboard
yang Nampak jelas dari jalan raya. Pihak sekolah setuju-setuju saja. Tapi kucuran
dananya pas-pasan untuk membuat nameboard
yang mentereng. Kami tidak berkeluh kesah karena memang begitulah kondisi
keuangan sekolah. Akhirnya dengan keuangan yang pas, ( pas untuk beli lem, pas
untuk beli cat, pas untuk beli stereofoam, pas untuk belie es di bulek nur…)
kami berhasil membuat papan nama yang terlihat jelas dari jalan raya. Tapi terlihat
agak lucu, papan nama itu tertempel di dinding luar AULA lama ( kelas 2 IPA/
IPS kala itu ) yang terbatasi oleh cat berwarna kuning dan tulisan yang
tertempel hanyalah stereofoam yang hanya tahan beberapa bulan. Minggu pertama
kami lihat masih mentereng dan tulisanya lengkap. Bulan pertama tulisan yang di
cat warna biru sudah mulai usang karena kena sinar matahari. Bulan kedua
tulisan sudah mulai keropos dan berlubang – lubang. Bulan – bulan berikutnya
aku sudah tidak begitu mengamatinya lagi hingga akhirnya ruangan itu
dihancurkan dan dibangun kelas baru.
Lepas dari nameboard, dedengkot IPM MAMUSA pernah menerima ide
untuk menjadi panitia pelaksana jalan sehat dalam rangka milad MAMUSA yang
ke-25. Masih sangat teringat ketika kami belum mampu untuk mencari sponsor,
sehingga kelabakan dalam pendanaan. Dari permasalah itulah Pak Qomari ( Kepala
MAMUSA saat itu ) memberi ide. “ bagaimana kalau hadiahnya berupa trophy aja,
untuk menghemat biaya ? “. Seketika tahu seperti itu kami merasa putus asa dan
ingin menggagalkan acara itu, Karena kupikir tidak akan menarik sama sekali
jika hadiah yang disajikan dalam jalan sehat cuman sebatas trophy, “ itu kan hadiah
lomba 17-an, masak buat hadiah jalan sehat “ itu yang ada dalam pikiranku. Tapi
disisi lain banyak pihak yang menginginkan acara itu tatap berjalan walau
keterbatasan dana. Akhirnya negosiasipun dilakukan. Kami melakukan rapat dengan
beberapa dewan guru. Beberapa itu adalah Pak Qomari, Pak Bejo Sukateman, Pak
Basuki Rahmat, dan Pak Nuryadi (Alm). Akhirnya kesepakatan kami lakukan. Pak
Nuryadi (Alm) siap membantu kami mencarikan sponsor untuk hadiah yang menarik.
Dan kamipun gak kalah, mau mencoba untuk menggali informasi tentang
per-sponsoran itu. Al Hasil kami dapat sponsor dari “Sakatonik Jreng”. Seketika
itu pikiran kami juga langsung “jreng”. Kami
siap bekerja keras menyiapkan jalan sehat itu. Mulai dari publikasi dan
distribusi karcis sampai dengan urusan konsumsi. Bingung mendera kami, H – 7 hari masih dapat
peserta sekitar 400 orang, padahal target peserta adalah sekitar 1500 orang
untuk memenuhi target dari sponsor. Berbagai cara kami lakukan agar semua tiket
terjual. Mulai membuka stand penjualan tiket di secretariat yang nekat buka
sampai jam 11 malam, hingga mendatangi petinggi ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah di
ranting-ranting.
Masalah tak
cukup itu. Banyak kontroversi pro-kontra di kegiatan itu. Diantaranya
berkembangnya pemikiran bahwa jalan sehat dengan mengundi karcis itu adalah
salah satu kegiatan “mengundi nasib”, dan itu dilarang oleh Islam. Luar biasa
tantangan yang kami alami, tapi urusan itu kami menyerahkan kepada pihak
sekolah agar melakukan klarifikasi atas pendapat itu.
Cukup lega rasanya ketika penjualan
tiket sudah sampai angka 1000, tapi kurang 500 tiket yang harus terjual. Tak
putus asa kami mengobral karcis itu. Dan akhirnya cukup sudah perjuangan kami
menjual tiket karena sudah menembus angka minimal pada malam hari sebelum pelaksaan.
Aku menghabiskan periodeku dengan
berbagai aktifitas yang belum pernah dilakukan sebelumnya…….
Sepenggal pengalamanku ini semoga dapat menjadi semangat yang
besar buat adik – adik yang sekarang menjadi Pimpinan IPM di MAMUSA agar selalu
mengadakan inovasi dan kreasi walau dalam keterbatasan.
By K@ng M@x
Kamis, 7 Juni 2012
Tertarik dengan sponsor Sakatonik 'Jreng' yang bikin mood langsung 'Jreng!'
BalasHapusHaha :D